Senin, 27 Juni 2016 | By: Dika Darmawan

War Machine



Saat ini apa yang kita lihat dari film science fiction tentang pasukan robit perang yang mampu secara mandiri atau bersama-sama bertempur di udara, darat, dan laut sudah dikembangkan dengan nama teknologi sistem senjata otonom. Sistem senjata otonom adalah sistem senjata yang dapat memilih dan menembakkan pada target sendiri tanpa campur tangan manusia. Senjata sepenuhnya otonom untuk menilai konteks situasional di medan perang dan memutuskan metode menyerang terbaik sesuai dengan informasi yang diproses. Sistem senjata otonon akan bergerak mengikuti suatu “kecerdasan buatan” yang pada dasarnya diciptakan lewat perhitungan aritmatika dan pemograman robot. Namun sampai saat ini belum memiliki semua fitur kecerdasan serta “perasaan” atau penilaian manusia, agar bisa bertanggung jawab dan tunduk mematuhi peraturan-peraturan dan norma-norma. Penggunaan kecerdasan buatan dalam konflik bersenjata yang akan menjadi tantangan mendasar bagi perlindungan warga sipil sesuai hak asasi manusia internasional dan hukum humaniter.

Sistem senjata otonon berbeda dengan sistem senjata remote control seperti drone atau wahana nirawak yang masih dikemudikan oleh manusia dan komputer dari jarak jauh karena tidak memerlukan panduan  atau pengendalian manusia setelah diprogram dan diaktifkan. Meskipun sistem senjata otonom dengan kemampuan mematikan belum digunakan saat ini, namun kemampuan beroperasai dengan tingkat otonomi atau kebebasan bertindak dan menyerang  sudah mulai digunakan secara aktif oleh Amerika Serikat, Inggris, israel, dan Korea Selatan. Penggunaan intensif pesawat tanpa awak MQ-1 predator adalah saat CIA mulai melihat betapa praktisnya jika menggunakan robot udara untuk mengumpulkan intelejen dan menyerang sasaran dengan resiko dan biaya yang lebih kecil. Para pakar percaya bahwa perang modern masa depan akan menggunakan sistem senjata otonom. Militer AS berinvestasi besar-besaran dalam penelitian dan pengembangan sitem senjata otonom seperti wahana tak berawak IAI Pioneer dan MQ-1 Predator yang dapat dipersenjatai dengan rudal dan dioperasikan dari pusat komando jaraj jauh untuk  pengintaian dan penyekatan sasaran.

DARPA telah menyelenggarakan kompetisi di tahun 2004 dan 2005 yang melibatkan perusahaan swasta dan universitas untuk mengembangkan kendaraan darat tak berawak untuk bernavigasi melalui medan kasar di gurun Mojave dengan beberapa simulasi  tugas. Bidang artileri juga melihat beberapa penelitian yang menjanjikan dengan sistem senjata eksperimental bernama Dragon Fire II yang secara otomatis mampu mengisi peluru  dan menghitung balistik untuk menembak secara akurat. Pengembang jet tempur pengebom otonom untuk menghancurkan target sangat menjanjikan karena tidak memerlukan pelatihan untuk pilot robot dan pesawat otonom mampu melakukan manuver yang tidak dapat dilakukan pilot manusia, desain pesawat tidak memerlukan sistem pendukung kehidupan dan hilangnya pesawat tidak berarti hilangnya pilot manusia.

Bahkan sistem robotika modern mampu membuat wahana tanpa awak dalam ukuran dan kemampuan sehingga mampu meniru burung kecil, serangga, ikan atau binatang kecil  yang dapat masuk ke celah-celah lubang atau masuk diantara kabel-kabel listrik untuk fungsi pengintaian hingga penyerangan dengan senjata peledak atau senjata kimia dan biologi. Namun semua senjata otonom peperangan masih memiliki keterbatasan karena masih memerlukan intervensi manusia untukmemastikan masih sesuai konvensi Jenewa untuk hukum perang. Mengingat besar konflik bersenjata saat ini adalah konflik tanpa batas yang jelas antara berbagai kelompok bersenjata dan warga sipil patut dipertanyakan bagaimana robot dapat secara efektif diprogram untuk menghindari korban sipil ketika manusia sendiri masih menghadapi kesulitan untuk mengatasi dilema ini. Serangan militer tidak dapat dilakukan bila beresiko menyebabkan kerusakan sipil dengan proposional tinggi. Jelas diragukan bahwa teknologi berpikir sistem robot perang saat ini mampu membuat keputusan tersebut.

Kelemahan terbesar sistem robotika  perang adalah ketidakmampuan wahana robotika untuk mengakomodasi kondisi non standar yang memerlukan intuisi dan perasaan manusia  tentang yang baik dan jelek, yang salah dan yang benar yang tepat yang yang tidak tepat.


Sumber : Angkasa

0 komentar:

Posting Komentar