Kamis, 30 Januari 2014 | By: Dika Darmawan

TEORI KEPEMIMPINAN



Kepemimpinan adalah jalan proses mempengaruhi aktivitas-aktivitas sebuah kelompok yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan.
Tipe-Tipe Kepemimpinan :

1. Tipe Kepemimpinan Kharismatis

Tipe kepemimpinan karismatis memiliki kekuatan energi, daya tarik dan pembawaan yang luar biasa untuk mempengaruhi orang lain, sehingga ia mempunyai pengikut yang sangat besar jumlahnya dan pengawal-pengawal yang bisa dipercaya. Kepemimpinan kharismatik dianggap memiliki kekuatan ghaib (supernatural power) dan kemampuan-kemampuan yang superhuman, yang diperolehnya sebagai karunia Yang Maha Kuasa. Kepemimpinan yang kharismatik memiliki inspirasi, keberanian, dan berkeyakinan teguh pada pendirian sendiri. Totalitas kepemimpinan kharismatik memancarkan pengaruh dan daya tarik yang amat besar.

2. Tipe Kepemimpinan Paternalistis/Maternalistik

Kepemimpinan paternalistik lebih diidentikkan dengan kepemimpinan yang kebapakan dengan sifat-sifat sebagai berikut: 
  1. Mereka menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak/belum dewasa, atau anak sendiri yang perlu dikembangkan.
  2. Mereka bersikap terlalu melindungi.
  3. Mereka jarang memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengambil keputusan sendiri.
  4. Mereka hampir tidak pernah memberikan kesempatan kepada bawahan untuk berinisiatif.
  5. Mereka memberikan atau hampir tidak pernah memberikan kesempatan pada pengikut atau bawahan untuk mengembangkan imajinasi dan daya kreativitas mereka sendiri. 
  6. Selalu bersikap maha tahu dan maha benar.
Sedangkan tipe kepemimpinan maternalistik tidak jauh beda dengan tipe kepemimpinan paternalistik, yang membedakan adalah dalam kepemimpinan maternalistik terdapat sikap over-protective atau terlalu melindungi yang sangat menonjol disertai kasih sayang yang berlebih lebihan.

3. Tipe Kepemimpinan Militeristik
Tipe kepemimpinan militeristik ini sangat mirip dengan tipe kepemimpinan otoriter. Adapun sifat-sifat dari tipe kepemimpinan militeristik adalah: 
  1. Lebih banyak menggunakan sistem perintah/komando, keras dan sangat otoriter, kaku dan seringkali kurang bijaksana.
  2. Menghendaki kepatuhan mutlak dari bawahan. 
  3. Sangat menyenangi formalitas, upacara-upacara ritual dan tanda-tanda kebesaran yang berlebihan.
  4. Menuntut adanya disiplin yang keras dan kaku dari bawahannya. 
  5. Tidak menghendaki saran, usul, sugesti, dan kritikan-kritikan dari bawahannya.
  6. Komunikasi hanya berlangsung searah.


4. Tipe Kepemimpinan Otokratis (Outhoritative, Dominator)

Kepemimpinan otokratis memiliki ciri-ciri antara lain: 
  1. Mendasarkan diri pada kekuasaan dan paksaan mutlak yang harus dipatuhi.
  2. Pemimpinnya selalu berperan sebagai pemain tunggal. 
  3. Berambisi untuk merajai situasi. 
  4. Setiap perintah dan kebijakan selalu ditetapkan sendiri. 
  5. Bawahan tidak pernah diberi informasi yang mendetail tentang rencana dan tindakan   yang akan dilakukan. 
  6. Semua pujian dan kritik terhadap segenap anak buah diberikan atas pertimbangan         pribadi. 
  7. Adanya sikap eksklusivisme. 
  8. Selalu ingin berkuasa secara absolut.
  9. Sikap dan prinsipnya sangat konservatif, kuno, ketat dan kaku. 
  10. Pemimpin ini akan bersikap baik pada bawahan apabila mereka patuh.
5. Tipe Kepemimpinan Laissez Faire

Pada tipe kepemimpinan ini praktis pemimpin tidak memimpin, dia membiarkan kelompoknya dan setiap orang berbuat semaunya sendiri. Pemimpin tidak berpartisipasi sedikit pun dalam kegiatan kelompoknya. Semua pekerjaan dan tanggung jawab harus dilakukan oleh bawahannya sendiri. Pemimpin hanya berfungsi sebagai simbol, tidak memiliki keterampilan teknis, tidak mempunyai wibawa, tidak bisa mengontrol anak buah, tidak mampu melaksanakan koordinasi kerja, tidak mampu menciptakan suasana kerja yang kooperatif. Kedudukan sebagai pemimpin biasanya diperoleh dengan cara penyogokan, suapan atau karena sistem nepotisme. Oleh karena itu organisasi yang dipimpinnya biasanya morat marit dan kacau balau.
Secara singkat ciri-ciri kepemimpinan Laissez Faire :
  1. Memberi kebebasan kepada bawahan
  2. Pimpinan tidak terlibat dalam kegiatan.
  3. Semua pekerjaan dan tanggung jawab dilimpahkan kepada bawahan.
  4. Tidak mempunyai wibawa
  5. Tidak ada koordinasi dan pengawasan yang baik.
6. Tipe Kepemimpinan Populistis

Kepemimpinan populis berpegang teguh pada nilai-nilai masyarakat yang tradisonal, tidak mempercayai dukungan kekuatan serta bantuan hutang luar negeri. Kepemimpinan jenis ini mengutamakan penghidupan kembali sikap nasionalisme.

7. Tipe Kepemimpinan Administratif/Eksekutif

Kepemimpinan tipe administratif ialah kepemimpinan yang mampu menyelenggarakan tugas-tugas administrasi secara efektif. Pemimpinnya biasanya terdiri dari teknokrat-teknokrat dan administratur-administratur yang mampu menggerakkan dinamika modernisasi dan pembangunan. Oleh karena itu dapat tercipta sistem administrasi dan birokrasi yang efisien dalam pemerintahan. Pada tipe kepemimpinan ini diharapkan adanya perkembangan teknis yaitu teknologi, indutri, manajemen modern dan perkembangan sosial ditengah masyarakat.


8. Tipe Kepemimpinan Demokratis

Kepemimpinan demokratis berorientasi pada manusia dan memberikan bimbingan yang efisien kepada para pengikutnya. Terdapat koordinasi pekerjaan pada semua bawahan, dengan penekanan pada rasa tanggung jawab internal (pada diri sendiri) dan kerjasama yang baik. kekuatan kepemimpinan demokratis tidak terletak pada pemimpinnya akan tetapi terletak pada partisipasi aktif dari setiap warga kelompok.
Kepemimpinan demokratis menghargai potensi setiap individu, mau mendengarkan nasehat dan sugesti bawahan. Bersedia mengakui keahlian para spesialis dengan bidangnya masing-masing. Mampu memanfaatkan kapasitas setiap anggota seefektif mungkin pada saat-saat dan kondisi yang tepat.

9. Tipe Open Leadership

         Tipe ini hampir sama dengan tipe demokratis. Perbedaannya terletak pada pengambilan keputusan. Dalam tipe ini keputusan ada ditangan pemimpin.



 KEHILANGAN KURSI
Sebuah organisai manufacturing yang mempunyai karyawan sekitar 270 orang mempekerjakan seorang manajer pabrik baru dengan maksud untuk mengurangi biaya-biaya produksi, meningkatkan kualitas produk, dan memperbaiki produktivitas karyawan. Pekerjaan adalah melelahkan dan kondisi-kondisi pekerjaan sangat tidak menyenangkan. Ini terutama disebabkan oleh panas dan debu yang ditimbulkan oleh proses produksi. Hari kerja dibagi 3 shift, dimana lama waktu setiap shift adalah 8 jam, tanpa waktu makan yang ditetapkan secara eksplisit. Para karyawan biasanya membeli minuman dan makanan dari warung-warung di sekitar pabrik dan minum atau makan sambil bekerja. Teknisi keamanan pabrik mengemukakan bahwa gang-gang yang digunakan untuk lalu lintas truk-truk pengangkut barang sering terhambat atau terganggu oleh lalu lalang para karyawan yang memerlukan dan membeli minuman dan makanan. Manajer baru mengambil keputusan untuk membangun sebuah cafeteria untuk mengurangi bahaya keamanan ini dan untuk memberikan kepada para karyawan suatu tempat makan jauh dari proses produksi yang tidak menyenangkan.
Setelah bangunan diselesaikan, para karyawan mulai makan di cafeteria seperti yang diharapkan. Bagaimanapun juga, meninggalkan lokasi pekerjaan menunjukkan secara implisit adanya periode istirahat untuk makan bagi para karyawan. Waktu yang dihabiskan para karyawan untuk keperluan tersebut tentunya naik secara menyolok dan sebagai akibatnya terjadi penurunan produktivitas. Manajer pabrik kemudian memutuskan bahwa untuk menghindari para karyawan mondar-mandir ke cafeteria, dia akan memindahkan kursi-kursi. Para karyawan marah karena “Kenyamanan” yang selama ini mereka rasakan telah diambil. Konsultan pengembangan organisasi ( Organization Development ), setelah diperkenalkan, memperoleh informasi dari serangkaian wawancara bahwa para karyawan tidak pernah menginginkan cafeteria. Mereka sesungguhnya menginginkan lokasi yang lebih aman dari truk-truk pengankut barang.

Pertanyaan :
Apa kesalahan-kesalahan pokok yang dibuat manajemen dalam proses perubahan tersebut ? Jelaskan !
Jawab :
         Dalam menganalisa sebuah permasalahan sebaiknya dilihat dari inti permasalahannya, buka melihatnya dari luarnya saja. Dalam kasus ini ada beberapa pokok permasalahan yang sudah ada dan belum terselesaikan dengan baik . Ada baiknya dalam mengambil langkah langkah perubahan kita harus tahu betul apa keinginan dari mereka mereka (pekerja). Dalam sebuah perusahaan pastinya melibatkan banyak banyak aspek yang mempengaruhi kinerja para pekerjanya untuk itu ada baiknya kita harus tahu betul akar dari permasalahkan yang mereka rasakan akan sesuatu yang menghambat mereka dalam bekerja atau hal yang lainnya, agar langkah langkah yang dilakukan tepat guna ke sasaran permasalahnnya.
Contohnya seperti

  1. Seperti  panas dan debu yang terdapat dalam pabrik yang membuat para karyawan cepat kelelahkan dan kondisi-kondisi pekerjaan sangat tidak menyenangkan. Kenyamanan dalam bekerja iu sangatlah penting. Karena dengan suasana dan lingkungan kerja yang nyaman akan menimbulkan semangat kerja dari para pekerjanya, dengan nyamannya tempat kerja mereka juga membuat mereka merasa nyaman dan tidak cepat kelelahan. Diperlukannya perbaikan dalam pabrik mengenai kenyamanan untuk para pekerja, dan manciptakkan suasana yang nyaman, dengan terciptanya kondisi seperti tersebut akan bisa mendorong perbaikan dalam jumlah produksi kearah yang lebih baik lagi 
  2. Kemudian pada pembagian jam kerja yang dibagi menjadi 3 shift, Jika melihat ke arah produksi seharusnya disesuaikan dengan jam kerjanya terlebih dahulu. Mengingat pembagian kerja itu harus dilihat dari kapasitas pekerjanya sendiri. Jangan disamakan pembagian jam kerja antara yang malam dengan yang pagi, karena akan berakibat langsung kedalam proses produksi. Bila terdapat jam kerja malam dan jumlah jam kerjanya sama dengan jumlah kerja pada pagi hari tentu saja akan berbeda hasilnya. Pada saat pagi hari seorang pekerja mempunyai kondisi yang baik dibandingkan dengan para pekerja yang mendapatkan jam kerja malam. Kondisi keadaan mereka pun berbeda, kondisi pada malam hari yaitu para pekerja biasanya lebih berpotensi mengantuk saat bekerja, untuk itu harus dilakukan perubahan pembagian jam kerja yang seimbang menurut shift mereka bekerja. 
  3. Tidak adanya waktu istirahat yang cukup dan jam istirahat yang pasti untuk para pekerjanya, membuat mereka dengan leluasa keluar dan masuk pabrik saat berlangsungnya proses produksi selain berdampak kepada proses produksi itu juga berkibat ke pekerjanya. Tidak adanya jam istirahat yang cukup bagi mereka bisa membuat para pekerjanya cepat sakit dalam jangka waktu dekat. Perusahaan yang baik harus bisa menjaga sumber daya manusianya dengan baik dan benar, karena pekerja juga merupakan roda penggerak dari sebuah perusahaan. Jika mereka cepat sakit maka yang akan mengalami kerugian secara tidak langsung juga perusahaan itu sendiri
  4. Tidak adannya tim dalam menganalisa sebuah permasalahan. Seorang manajer pasti membutuhkan bantuan seseorang atau sebuat tim dalam mencari permasalahan yang dialami oleh para pekerjanya. Dengan adanya itu membuat seorang manajer tahu betul kondisi dilapangan secara rinci dan mengetahui permasalahan apa saja yang dirasakan oleh para pekerjanya. Terkecuali jika seorang manajer tersebut mau turun langsung ke lapangan, melakukan pendekatan dengan para pekerja dan mencari tahu kendala kendala yang terjadi di dalam pabrik sehingga tahu betul permasalahan yang terjadi.
  Setelah kasus ini diselidiki oleh konsultan pengembangan organisasi ( Organization Development ),  mereka memperoleh informasi dari serangkaian wawancara bahwa para karyawan tidak pernah menginginkan cafeteria. Mereka sesungguhnya menginginkan lokasi yang lebih aman dari truk-truk pengankut barang. Berarti tindakkan yang selama ini dilakukan oleh sang manajer belumlah sampai kepada sasarnnya. Seorang manajer yang baik akan mengambil sebuah keputusan berdasarkan fakta fakta yang mereka kumpulkan terlebih dahulu, mengumpulkan berbagai informasi yang berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi barulah mengambil keputusan dan tindakkan yang akan dilakukan, bukan berdasarkan atas keputusannya sendiri yang di ambil tanpa melihat kondisi yang sebenernya terjadi.
Dengan adanya pernyataan seperti di atas bisa disimpulkan bahwa manajer yang baru dipekerjakan oleh sebuah organisasi manufaktur ini bersifat otoraktis

0 komentar:

Posting Komentar